ZAMAN REPUBLIK (Bagian VII: Gerilja)

Mei 10th, 2007 by Pustakawan | 0

Dalam pada itu semangat perdjoangan dari rakjat Malang jang tidak dapat dipadamkan itu terus berkobar dan sekalipun kota Malang diduduki Tentara Belanda pasukan2 gerilja kita hampir tiap malam tidak henti2nja menjerbu kedalam kota hingga menimbulkan ketakutan Belanda. Jang diduduki itu hanjalah kota dan djalan2 besar disekitarja, tetapi daerah luas diluar itu tetap berada didalam kekuasaan Pemerintah RI.

Pertempuran jang patut ditjatat disamping pertempuran diantara Tentara dan lasjkar2 melawan Belanda adalah djuga jang tergabung dalam TRIP. Ksatria2 muda itu banjaklah jang gugur dan sekarang meninggalkan bekas jang merupakan “massagraf” dan terletak didjalan Salak.

Sebelum Tentara Belanda memasuki kota Malang, gedung Balaikota sudah dibumi hanguskan. Bukan gedung ini sadja jang di hantjurkan/dibakar dengan maksud agar tidak dapat dipakai oleh Tentara Belanda, tetapi djuga gedung2 ketentaraan, rumah besar d.l.l. Jang dibumi-hanguskan didalam kota Malang sadja meliputi kira2 seribu bangunan.

Beberapa malam lamanja kita melihat api jang besar di beberapa tempat didalam kota. Pemerintahan kota diungsikan kehotel Palace. Sewaktu keadaan telah mendesak maka pegawai dibagi dua: segolongan jang akan mengungsi ke Selatan untuk meneruskan perdjuangan diluar kota, dan segolongan lagi jang tinggal dalam kota. Dari sini pindah pula ke Sumberputjung. Sewaktu dari sini pindah ke Gondanglegi, terdjadilah clash ke II dalam tahun 1948. Kantor Kota ditempat tersebut kita bumi hanguskan sebelum meninggalkan tempat itu.

Kantor Kota lalu dipindahkan ke Bantur dan dari sini pindah pula ke Wonokerto. Terachir pindah ke Gondanglegi hingga saat pemindahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949.

Rakjat kota Malang dalam pengungsiannja menudju kedaerah merdeka — Malang Selatan — dengan mengambil djurusan Malang - Tumpang, Malang - Wadjak dan Malang - Turen ada jang mengambil djurusan Malang – Sempalwadak - Gondanglegi dan Turen. Djuga ada jang mengambil djurusan Malang - Kendalpajak - Bululawang - Turen. Malang – Kendalpajak – Pakisadji – Kepanjen.

Malang – Sukun – Pakisadji – Kepandjen. Malang –Wagir – Kendogo dan terus kedaerah Blitar. Sedangkan jang mengambil djurusan melalui Batu, Pudjon dan Ngantang djuga ada tetapi djumlahnja tidak besar. Pengungsian itu terdjadi sebagian besar pada waktu diadakan pembumi hangusan jang pertama.

Usaha Belanda setelah menduduki kota Malang ternjata tidak berhenti didalam kota sadja, melainkan meneruskan langkahnja sampai Pakisadji, Kendalpajak dan Batu. Usaha operasi Tentara Belanda didaerah pendudukan diperhebat karena selalu ada serangan gerilja. Gerilja berlangsung dengan tiada kundjung putusnja sampai tibanja saat penjerahan kedaulatan negara kita.

Gerakan gerilja itu mendapat bantuan jang besar dan rakjat didaerah pedalaman dan djuga dari rakjat didaerah pendudukan. Usaha Belanda dilapang Pemerintahan untuk stabilisasi didalam daerah pendudukan antara lain mengadakan D.P.R. pendudukan. Distribusi dan kantor pendaftaran penduduk jang terutama untuk dapat mengetahui perbedaan antara mana orang dari daerah pedalaman dan mana jang dari daerah pendudukan.

Pengiriman barang dan barang masuk kedaerah pendudukan dari daerah pedalaman berlangsung setjara merdeka, tetapi sebaliknja pengiriman bahan dan barang dari daerah pendudukan kedaerah pedalaman ternjata seret dan selalu dipersukar oleh Belanda. Meskipun demikian tjukup djuga bahan2 dan barang jang dikirim setjara gelap ke daerah pedalaman oleh para pedagang bangsa kita sehingga antata lain dapat dibuktikan dengan ramainja pasar Wadjak, Gondanglegi, Kepandjen, Ngebruk dan lain2nja.

Walaupun ada rintangan jang besar dari fihak Belanda, ternjata hubungan diantara para politisi jang berada didaerah pendudukan jang tjinta pada Republik dengan jang berada didaerah pedalaman masih tetap ada, dengan djalan mengirimkan kurir atau pertemuan langsung, baik jang dilakukan disekitar giris statusquo maupun didalam daerah pendudukan.

Para politisi itu ternjata aktif dan untuk menggerakkan semangat rakjat diusahakannja perajaan Hari2 Nasional. Hari proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia djuga dirajakan setjara meriah didalam daerah pendudukan pada 17 Agustus 1949 dikota Malang. Djuga Hari 10 Nopember sebagai Hari Pemuda atau Hari Pahlawan dan hari2 lainnja jang membawa kebesaran dan memupuk semangat pendjuangan. Untuk menggerakkan semangat rakjat didaerah pendudukan dengan diadakannja perajaan2 masih terkenang antara lain rapat2 umum distadion dan digedung Flora.

Dikala itu bantuan dan perdjuangan Pemuda hebat sekali dengan Front Nasional Pemuda sebagai pelopornja. Pemuda memegang peranan penting terutama dalam usaha melikwidasikan Negara Djawa Timur.

Para politisi dan kaum gerilja RI jang berada dalam pendjara dikala itu memberikan sambutan2 jang hangat atas usaha mereka jang berada didaerah pendudukan. Banjak djuga jang meringkuk didalam pendjara akibat dan aktiviteit para politisi dan kaum gerilja Republik Indonesia. Artinja, korban dari para politisi, kaum gerilja, kurir dan partikelir tjukup dibuktikan dengan banjaknja djumlah mereka jang didjebloskan oleh Belanda kedalam pendjara atau tawanan I.V.G.

Akan tetapi kematian2 anggauta tentara Belanda dan kakitangannja banjak terdjadi didaerah pendudukan akibat dari kegagahan dan kewaspadaan kaum gerilja Republik Indonesia. Ternjata Belanda menghadapi kesulitan jang menghebat.

Leave a Reply