ZAMAN REPUBLIK (Bagian V: Sidang KNIP di Malang)
Dalam bulan April 1946 oleh Kotapradja Malang diadakan pembetulan besar2an pada sebuah Gedung Rakjat jang digunakan untuk sidang2 K.N.I. Pusat.
Sidang K.N.I. Pusat dikota Malang waktu itu dikatakan orang mengandung saat bersedjarah dalam parlemen kita dimana utusan rakjat dan pemimpin negara bertukar fikiran, mengeluarkan perasaan dan pendapatnja masing2, jang tudjudnja untuk memelihara revolusi bangsa Indonesia supaja dapat menegakkan dan mengokohkan negara. Sidang tersebut ternjata menarik perhatian dan membuka mata dunia. Kundjungan terhadapnja adalah luar biasa baik dari dalam maupun dari luar negeri terutama Pers luar negeri. Djika diketahui, para tamu jang ditunggu tadinja hanja 1000 orang, tetapi njatanja lebih dari 2500 orang. maka dapatlah dikira-kirakan betapa besar kesukaran jang dihadapi oleh Panitya di Malang.
Tetapi kesemuanja berhasil karena kerdjasama jang sangat rapat diantara instansi2 dengan masjarakat, untuk kepentingan bersama.
Bila oranq sudah mendaftarkan namanja lalu pergi kerumah penginapan, hotel2 besar jang indah dan permai di pegunungan dan kota Malang sendiri, sedang soal kendaraan diatur dengan baik. Ada pula beberapa bus untuk para tamu berdjalan dari Malang— Batu—Selecta pp.
Geding Rakjat itu diatur sedemikian rupa, hingga rumah bola jang tadinja hanja merupakan kamar bola telah dapat dipakai mend jadi sebuah gedung parlemen.
Begitu sampai diberanda muka, dengan mudah kita melihat tanda penundjuk djalan. Kesebelah kanan, adalah untuk anggauta K.N.I. masuk kedalam ruangan. setelah lebih dahulu melalui kamar bagian pertanjaan (information). Disitu tiap2 anggauta jang hendak masuk kedalam, lebih dahulu mentjatatkan namanja pada daftar (presentielijst).
Sebelah kiri ada ruangan kantor pos dan kawat untuk pers dan staf Penerangan, sedang agak kedalam sedikit, kamar untuk Panitya penerimaan pengangkutan.
Sangat istimewalah ruangan untuk wartawan jang disebut “pressroom”, lengkap dengan telepon, mesin tulis, kertas, karbon, tinta, lijm dan gunting serta surat2 kabar.
Disini berkantor beberapa pegawai Kementerian Penerangan Djawa Timur, dengan pimpinan Saudara Abdul Wahab.
Dalam kamar inilah wartawan luar dan dalam negeri menjiapkan perslag untuk dikirim dengan kawat kepada surat2 kabarnja.
Kementerian Penerangan mengadakan persetudjuan pula dengan Kantor Pos Negeri di Malang, supaja berita2 kawat jang dikirim oleh wartawan dalam dan luar negeri itu melalui Kantor Penerangan di Djakarta, tidak usah dibajar seketika itu djuga. Dengan paraf dari pemimpin rombongan atau wakilnja, atau dan staf Kementerian Penerangan dapatlah semuanja dikirim dengan djalan kredit, suatu peraturan jang sangat dihargakan oleh kaum wartawan.
Didalam ruangan gedung parlemen itu diatur pula pembagian tempat jang sangat rapi. Karena pada persidangan jang permulaan, hanja untuk anggauta Komite Nasional Pusat Lama, maka sebagian lagi jang djumlahnja lebih dari 200 anggauta baru, diberikan tempat dalam bagian Penindjau, sedang pada sidang K.N.I. baru, kaum penindjau ini madju mendjadi anggauta dari untuk wartawan disediakan pula 50 kursi dan 50 untuk wakil2 pemerintah.
Untuk penulis tjepat jang akan mentjatat semua pembitjaraan disediakan dimuka podium Pemerintah, sedang tepat ditengah-tengah dekat tembok jang merupakan tabir kebelakang berdjadjarlah dua buah kursi besar dan tinggi, untuk Presiden dan Wakil Presiden, diapit oleh seorang adjudan dan dua pengawal, sedang sebelah menjebelah disediakan untuk para Menteri dan wakilnja serta untuk Ketua dan wakilnja, Pembesar2 Tinggi dari Angkatan Darat dan Laut, serta Pembesar Sipil lainnja, disediakan pula berhadap-hadapan dengan tempat duduk anggauta jang banjak itu.
Sementara disekeliling tembok dalam ruangan itu tergantung pula 49 gambar2 pengandjur berdjasa jang telah meninggal dunia, seperti Diponegoro, Teuku Umar, Panglima Polem, Tuanku Imam Bondjol, Dr. Tjipto, Dr. Wahidin, H.O.S. Tjokroaminoto, HA. Dachlan, Dr. Soetomo, M.H. Thamrin dan lain-lain.
Supaja memudahkan bagi pembitjara2 dan fihak utusan, maka diadakan beberapa buah mimbar, lengkap dengan alat pengeras suara (loudspeaker), sehingga bila tiba giliran untuk seseorang pembitjara, tjukup bila ia pergi kepada salah satu mimbar jang paling dekat padanja, sementara bila wakil Pemenintah berbitjara, microfoon dibawa kepadanja.
Dengan demikian dimanapun orang duduk dalam ruangan Parlemen jang luas dan besar ini, segala pidato akan dapat didengarnja dengan baik, terang dan djelas.
Bila tiba waktunja beristirahat, ta’ usahlah orang pergi djauh2 untuk mengaso atau hendak minum atau makan sekalipun. sebab didalam gedung itu sendiri ada restauran jg. teratur rapi, menjediakan makanan dan minuman.
Beberapa meter dari situ terletak pula restauran Oen.
Demikianlah pada har pertama sadja orang datang digedung Parlemen, mulai dari mendaftarkan nama sampai kepada pulangnja ketempat penginapan, ia sudah mendapat kesan jang baik, dari pengurus jang rapi tadi.
Kaum wartawan jang dari Djakarta menginap dihotel Selecta dan Batu, suatu tempat jang letaknja 25 km. dipegunungan. Alangkah gembiranja wartawan ini, tatkala diberitahukan kepadanja, bahwa sembarang waktu, siang dan malam, dapat mereka mengirimkan kawat ataupun telepun, apabila perlu dari pegunungan itu ke Djakarta melalui Kementerian Penerangan dan selandjutnja Kementerian kita akan melandjutkan kesegenap pendjuru dunia, walau kekutub utara sekalipun dan kantor kawat itu bertempat dalam salah satu kamar dekat kamarnja wartawan2 sendiri.
Rupanja fihak Kementerian Penerangan di Djawa Timur beserta K.N.I. dan Kantor Pos serta Telepon di Malang sudah bermufakat mengadakan kantor kawat Istimewa untuk kepentingan wartawan selama persi angan K.N.I. itu. Kantor istimewa ini di lengkapi dengan alat2 telex (telex apparaat) sematjam mesin tulis jang didjalankan dengan listrik, hingga kawat jang hendak dikirimkan itu tjukup diketik sadja pada mesin tulis listrik di Selecta itu, nanti akan disambut pula oleh mesin tulis di Malang, jang meneruskannja dengan tjepat ke Djakarta. Semuanja itu ditambah dengan pelajanan jg. rapi dalam tempat penginapan, maupun dalam perdjalanan sedang pendjaga keamanan dikota Malang, maupun diluarnja, baik Polisi Negara maupun Polisi Tentara sama me nundjukkan sikap jang correct, baik dan sopan santun, sekali-kali tidak kasar terhadap pada siapapun djuga.
Tidak heran pada hari pertama sadja, kornesponden s.k. Belanda; Jan Bouwer dari Nieuwsgier sudah menjatakan dalam kawatnja “De ontvangst der buitenlandsche gasten was allervoorkomendst en niets werd nagelaten om het hun zoo aangenaam mogelijk te maken”, artinja, “Penenimaan terhadap tamu luar negeri sangat manis dan segala sesuatu diusahakan untuk menjenangkan mereka sedapat mungkin”.
Selandjutnja diterangkan, bahwa ketjali kaum wartawan ada lagi penindjau dan luar negeri, jaitu tt. Ryan dan kapal “Marthin Behruman” dan Kaptain Sen Gupta dari Gubernemen India sementara, kemudian di tambah lagi dengan Mr. Holt dari Bleu Funnel Line.
Rombongan tiba di Malang pada tanggal 23 sedang pembukaan persidangan K.N.I. baru pada tangga 25, maka setelah mengalami pelajanan jang baik dan rapi mulai dan kereta api Negara sampai ke Selecta, semakin bertambah pula keinginan wantawan Untuk mengetahui betapa dan bagaimana dalam persidangan K.N.I. selandjutnja nanti jang akan melengkapkan gambaran sebenarnja dari pada revolusi bangsa Indonesia.
Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa diantara tjoretan sedjarah revolusi Nasional menurut tingkatan edaran masanja; maka Kota Malang djuga mempunjai detik2 jang bersedjarah pula. Kota Malang pernah dipilih sebagaf tempat dilangsungkannja sidang pleno KNIP. Dan ternjata djuga menarik pandangan luar negeri kearah kota Malang. Gedung jang memenuhi sjarat untuk didjadikan tempat sidang KNIP pada tanggal 25 Pebruari 1947 sampai dengan 5 Maret l947 adalah terletak disebelah utara alun2 kota Malang. Tetapi Gedung Rakjat itu telah dibumi haiiguskan akibat siasat pertahanan negara demi kepentingan pertahanan negara dan bangsa, kini tinggal runtuhannja.
Meskipun gedung tersebut belum terbangun kembali dan sekarang dalam tingkat mengusahakan kemungkinannja untuk membangun kembali, nampaklah djuga bangunan-bangunan lain jang mendjadi tumpukan puing dan sekarang telah terbangun kembali antara lain gedung pemerintahan Kota Besar Malang. Gedung Kota Besar itu memantjarkan pimpinan pemenintahan daerah dengan lambang kotanja jang berisikan kalimat “Malang Namaku-Madju Tudjuanku”.
Didepan gedung itu berdirilah Tugu Nasional jang mendjadi lambang kemerdekaan, lambang keindahan kota Malang, lambang dari pada pusat perdjoangan jang lampau dan sebagai pusat usaha pembangunan pada saat sekarang.
Djuga termasuk suatu penistiwa dalam lapangan perburuhan ialah adanja Kongres Buruh Seluruh Indonesia dikota Malang dalam tahun 1946 jang melahirkan Sentral Organisasi Bunuh Indonesia (S.O.B.S.I.).


Leave a Reply