ZAMAN REPUBLIK (Bagian II)

Mei 10th, 2007 by Pustakawan | 0

Perundingan dengan Syutyokan Malang dimana fihak Pemerintah Daerah RI. diwakili oleh Mr. Soenarko tentang penjerahan pimpinan pemerintahan daerah Karesidenan Malang dilakukan digedung kantor Karesidenan Malang (Malang Syutyo) dengan membawa hasil baik.

Pengoperan sendjata setjara resmi terdjadi pada tanggal 3 Oktober 1945. Sehari sebelum penjerahan sendjata oleh Djepang kepada pemenintah RI. Daerah Malang itu, nampaknja fihak Djepang tidak ambil pusing mengenai perundingan dengan fihak pemerintah R.I. Bahkan menjatakan tidak sukanja menjerahkan dan djika ingin merebut dipersilahkan mentjoba. Pa’ Sam dengan kawan-kawannja ketika. itu marah2 dan kemudian dikerahkan segenap tenaga B.K.R. dengan bantuan rakjat untuk bersiap-siap dan djika perlu bertempur.

Demikianlah stelling diatur. Tetapi disertai dengan perdjandjian diantara pimpinan jang mengatur itu, djika keesokan harinja memang Djepang suka menjerahkan sendjatanja, akan ada jang ditugaskan untuk berkeliling dengan oto memakai dua buah bendera sebagai tanda “berhasil”.

Kala itu di Surabaja telah terdjadi pertempuran2.

Pada tengah malam Pa’ Sam selaku Residen Malang diundang Djepang untuk datang di Rampal. Semula Pa’ Sam merasa akan dimasukkan perangkap tetapi nekat, terus berangkat dengan pamit jang ada dirumah dan menjatakan djika pagi harinja tidak datang berarti maut menimpa dirinja.

Ketika Pak Sam datang di Rarnpal tempat beberapa pembesar Djepang ternjata didjaga keras oleh Tentara Djepang. Dalam pertemuan itu oleh fihak Djepang dinjatakan akan menjerahkan sendjatanja. Sepulangnja Pak Sam dari tempat itu kira2 pada djam 3 malam terus memberitahukan ke pada kawan2nja para pembesar dan para terkemuka dari pemerintahan RI. untuk mengadakan pertemuan pada keesokan harinja. Tanggal 3 Oktober pagi gembong2 kita bertemu muka dan berunding sebentar dan kemudian bersama-sama berangkat ke Rampal. Sementara itu B.K.R. kita siap sedia dan rakjat membantu untuk menghadapi ke mungkinan2 jang terdjadi. Kesemuanja menantikan hasil perundingan dengan berdebar-debar. Ternjata bahwa dalam perundingan itu njata2 sendjata diserahkan oleh fihak Djepang kepada fihak pemerintah R.I.

Demikianlah peristiwa penjerahan sendjata dari tangan Djepang jang berdjalan dengan teratur, tidak menimbulkan kekatjauan dan tanpa pertempuran. Memang proses pengoperan kekuasaan, penjerahan sendjata jang berlangsung didaerah Malang berlainan dengan jang berdjalan dikota Surabaja jang nampaknja kota Surabaja mempunjai faktor2 jang lain jaitu antara lain faktor pengaruh Belanda dan Sekutu jang memanaskan suasana.

Dikota Malang pernah terdjadi insiden2 tetapi insiden2 itu adalab ketjil sekali. Sedangkan diluar kota Malang memang terdjadi insiden jang lebih besar dari pada di dalam kota.

Leave a Reply