Sedjarah Kota Malang: ZAMAN KOMPENI
Kompeni Belanda jang sebermula datang ke Indonesia ini dengan maksud berdagang, perlahan-lahan mengubah tudjuannja dan satu demi satu menduduki daerah Nusantara dengan maksud hendak mendjadjah. Politik kompeni ini mendapat sokongan dari Pemerintah Belanda jang mengetahui bahwa kepulauan Indonesia jang kaja raja ini dapat dipergunakan untuk memakmurkan negara dan rakjat mereka. Oleh karena itu kompeni dengan segala daja upaja baik dengan tipu muslihat ataupun dengan djalan peperangan selalu hendak meluaskan daerahnja. Keinginannja itu tidaklah dapat dilaksanakannja dengan gampang. Dimana daerah jang ingin didudukinja, tentu mendapat perlawanan dari rakjat.
Negara kita ini pernah mengenal kera djaan-keradjaan jang djaja seperti Djenggala, Modjopahit dan Tumapel, jang luas daerahnja hampir meliputi seluruh Nusantara. Kita djuga mengenal keradjaan Sriwidjaja jang daerah kekuasaannja sampai ke pulau Madagaskar disebelah Timur benua Afrika. Apakah rakjat dari negara jang pernah djaja demikian itu akan gampang menjerah sadja?
Peperangan didalam tempo beberapa abad jang harus dilakukan oleh Belanda untuk dapat menduduki seluruh kepulauan Nusantara ini, adalah bukti jang njata bahwa rakjat Indonesia tidaklah hendak menjerah begitu sadja kepada mereka jang hendak menguasainja. Kekalahan jang diderita oleh bangsa Indonesia bukanlah disebabkan kurangnja sifat kesatriaan, tetapi semata-mata disebabkan karena kekalahan lapangan teknik persendjataan. Lembaran sedjarah Indonesia penuh dengan perbuatan-perbuatan kesatriaan dari perwira2 Indonesia heserta rakjatnja dalam menghadapi kompeni.
Sewaktu kompeni telah menduduki daerah Pasuruan, maka kompeni menudju ke Malang. Daerah jang makmur dan indah ini ingin pula dikuasainja. Kompeni berpendapat bahwa ia djuga berhak atas Malang, sebab Malang hendak dimasukkannja pula kedalam daerah Pasuruan.
Sebermula kompeni membudjuk Adipati Malojokoesoemo agar ia takluk pada kompeni. Adipati dari Malang ini tidak menghiraukan kompeni itu, lalu kompeni menjiapkan pasukan2nja untuk menduduki kota Malang dan achirnja setelah mendapatkan perlawanan jang sengit dari tentara dan rakjat Malang, achirnja kota tersebut djatuh djuga kedalam tangan kompeni dalam tahun 1767.
Kompeni jang mengetahui bahwa penduduk Malang tidak gampang ditundukkan begitu sadja, lalu mendirikan benteng2 teguh ditepi kiri dari kali Brantas dimana sekarang berdiri rumah sakit Tjelaket; disitulah terdapat djuga “Loge” atau lodji dari kompeni. Perkataan “Lodji” lama kelamaan berubali mendjadi “ke-lodji-an” dan achirnja mendjadi “Klodjen”. Sampai sekarang ini disekitar tempat itu dapat orang melihat nama-nama djalan Klodjen-lor, Klodjen-kidul dan sebagainja.
Diwaktu itu Malang mempunjai penduduk sedikit sekali, menurut dugaan hanja ada 1000 keluarga Indonesia jang rumah2nja berdiri disebelah kanan dari kali Brantas, kira2 di Djodipan Wetan sampai di Kotalama. Orang tidak dapat mengetahui dengan terang siapa jang mendjadi penduduk Belanda pertama di Malang. Mungkin. Martines Hoffman, jang pekerdjaannja sebagai opperkoopman adalab orang jang mula2 mengandjurkan supaja orang Belanda suka tinggal di Malang. Kedudukan Pemerintah Belanda waktu di Malang hingga tahun 1821 berada ditepi sebelah kiri kali Brantas. Mereka mendirikan kuburan bagi orang Belanda di belakang Klodjen. Sewaktu orang mendirikan rumah sakit umum Tjelaket (dahulu ini asalnja rumah sakit militair) kuburan2 itu lalu disingkirkan. Njata bagi kita bahwa Pemerintah Belanda diwaktu itu masih merasa takut untuk mendirikan rumah sakit disebelah kanan dari kali Brantas, sampai mereka menggunakan kuburan itu sebagai tempat itumah sakit sedangkan segala sisa batu kuburan dipakai buat pondamen rumah sakit tersebut.
Untuk melukiskan bagaimana sulitnja dizaman dahulu itu orang melakukan perhubungan dari Pasuruan ke Malang dibawah ini disalin tjatatan dari zaman kompeni jang berbunji sebagai berikut:
“Kalau orang hendak pengi dari Pasuruan ke Malang, onang harus melalui suatu lembah jang luas dan djauhnja tudjuh djam perdjalanan. Lembah2 ini sebagian ditutupi oleh alang2, pohon rotan, djati, gornuti. genitri dan sono kemudian orang harus melalui djurang gunung Ardjuna dan Tengger, di mana orang nanti sampai ditegalan-tegalan jang indah, jang ditanami padi, djagung, katjang dan djarak. Ini adalah sumber penghidupan penduduk. Apabila orang sudah melewati semua ini, lalu orang nanti akan menemui djalan jang djelek sekali hingga dekat Malang. Disini orang akan melihat kampung jang teramat baik. Bermatjam-matjam pohon tumbuh disini jang merupakan hatsil bagi penduduk disitu guna dipakainja sehari-hari sehingga kompeni tidak bisa menarik itu sebagai upeti selain dari pada itu pengangkutan polowidjo dari Malang ke Pasuruan ada repot dan mahal sekali. Bagian Malang Kidul masih hutan belukar dan-didiami oleh kaum perusuh”. Bupati Malang, Raden Tumenggung Kartanegara saban tahun harus menjerahkan 87½ ringgit sebagai uang tjatjas pada kompeni dan ini ada sebagai gantinja upeti 10 kojan beras.
.jpg)

Leave a Reply