Sedjarah Kota Malang: ZAMAN ISLAM
Sultan Demak dengan hati tjemas melihat keradjaan Hindu itu berdiri kembali. Maka disiapkan tentaranja menudju Kota Bedah dan benteng tersebut direbutnja. Tetapi Ma- lang tidak menjerah begitu sadja. Pertempuran hebat telah dilakukan didekat kali Brantas. Kemudian daerah itu berada dibawah pemerintahan Islam.
Waktu Sultan Demak membagi-bagikan wilajahnja kepada putera2nja maka timbul lah masa kekatjauan dan pemberontakan, jg. selalu terdjadi djika diadakan pembagian daerah sematjam itu. Kota banjak jang hantjur dan penduduknja berkurang.
Disebabkan peperangan itu, maka Malang jang tadinja makmur telah mend jadi berantakan. Penduduknja banjak jang pindah kelain tempat; apa yang tadi kelihatan indah dan permai perlahan2 berubah mendjadi hutan belukar dan Malang mendjadi sunji lagi. Dua ratus tahun lamanja keadaan sedemikian itu berdjalan dan pada permulaan abad ke 18 putera2 dari Soerapati jang menguasai Pasuruan dan daerahnja, telah berdiam di Ma- lang dan mendirikan keradjaan baru.
Tetapi Sunan Mataram jang ingin meluaskan daerahnja kedjurusan Djawa-Timur telah berusaha untuk menduduki Malang dan peperangan baru berkobar pula.
Tetapi peradjurit2 dan rakjat Malang tidak mau takluk dan mereka membela Malang dengan mati2an. Sunan Mataram menganggap, bahwa penduduk kota Malang memban tah atau malang atau djuga menghalang-halangi maksudnja radja Mataram itu. Disebabkan itu maka sampai sekarang daerah itu disebut, Malang. Pun didalam lambang Kota Besar Malang dilukiskan utjapan jang indah jaitu “Malang namaku, madju tudjuanku”.


Leave a Reply