Sedjarah Kota Malang: ZAMAN HINDU

Apr 7th, 2007 by Pustakawan | 0

Telah diketemukan pula sehelai surat titah radja dari sebuah keradjaan Hindu jg djaja di Djawa-Timur. Pusat keradjaan tersebut tentunja berada didekat tempat dimana surat titah itu diketemukan ialah disekitar Malang. Keradjaan ini dapat dianggap sebagai pelopor keradjaan Singhasari, jg. pusatnja djuga berada didekat Malang.

Setelah itu menjusul zaman Pemerintahan radja Sendok (929 - 947) dan para penggantinja. Seorang dari mereka dimakamkan di Tjandi Kidal (Malang), dimana hingga sekarang masih terdapat hasil kebudajaan jg. amat tinggi nilainja dari zaman itu dan amat mengagumkan para penindjau tempat tersebut.

Apabila kita mengingat keradjaan Singhasari (1222 hingga 1292), maka tidak dapat dilupakan radja Ken Angrok jang setelah mengambil keradjaan Kediri dari tangan Kartadjaja dalam tahun 1222 mendirikan keradjaannja dan memberikan nama TU MAPEL atau SINGHASARI.

Ken Angrok-lah pertama mendjadi radja jang bukan keturunan suku radja Hindu. Ini berarti perpisahan dari jang lampau. Peralihan pun terdjadi; dengan berangsur-angsur kebudajaan Djawa mendjadi suatu kenjataan. Diwaktu itu Djawa mempunjai kebudajaan jang tinggi mutunja di Indonesia dan sanggup membawanja djauh keluar daerah.

Pada tahun 1227 Ken Angrok mati terbunuh. Dari radja2 Singhasari, radja Kertanegara-lah jang lebih terkenal dan terachir(1268—1292). Ada surat lama jang melukiskan Kertanegara sebagai radja jang sangat buruk memerintah. Sebaliknja ada pula surat lama jg. memudja kebidjaksanaannja, meng hormati pengetahuannja dan usahanja terhadap agama Buddha.

Kenjataan jang terpenting dan zaman Kertanegara ialah perluasan kekuasaan Singhasari keseluruh Djawa dan keluar daerahnja sampai ke Melaju, Bali, Kalimantan Barat Daja dan Maluku. Disebabkan kekuasannja jang besar itu, ia sampai berani menolak penmintaan Kublai Khan, radja Tiongkok jang sangat ditakuti radja2 lain.

Menantunja. putera Mahkota Widjaja setelah Kertanegara terbunuh, melarikan diri ke Madura. Setelah ia pura2 menjerahkan diri pada radja Kediri, Widjaja diizinkan untuk tinggal dilembah sungai Brantas.

Disitu didirikan sebuah kota tidak djauh dari Modjopahit. jang dinamakannja Madjapahit. Tidak lama sesudah itu, tiba tentara Tiongkok di Djawa. Widjaja mempergunakan kesempatan ini untuk mentjapai tjita2nja. Setelah Ia mengakui kekuasaan Tiongkok, ia lalu mendjadi serikat dari Tiongkok. Waktu radja Kediri menjerahg Madjapahit, tentara Tiongkoklah jang melepaskan kota tersebut. Sesudah itu Tiongkok menaklukkan Kediri.

Manusia dari zarnan sebetum sedjarah men ggunakan a/at jang sederhana mPcninyga/an za,nan Sirighasari jang djaja.

Setelah ini terdjadi, maka Widjaja menganggap saatnja tiba untuk menjerang tentara Tiongkok. Karena telah letih bertempur, terpaksa tentara Tiongkok itu mengundurkan diri. Kediri lalu djatuh dan Widjaja mendjadi radja dengan memakai gelar Kertaredjasa. Ia mendjadi radja pertama dari Madjapahit.

Dibawah pimpinan radja Madjapahit dimana Gadjah Mada mendjabat sebagam patih (perdana menteri), Ia berhasil mendirikan sebuah negara jang belum pernah didirikan di Indonesia sebelum pemerintahan Gadjah Mada. Hampir seluruh kepulauan Indonesia sekarang berada dibawah kekuasaannja. Demikian djuga keradjaan ini terus benlangsung dibawah pimpinan Hajam Wuruk jang djuga mengangkat Gadjah Mada sebagai perdana menterinja. Prapancha pudjangga kraton diwaktu itu banjak menulis tentang perdjalanan2, pemerintahan dan tentang pribadi radja Hajam Wuruk. Apabila membatja karangan tentang perdjalanan Hajam Wuruk memeriksa daerah keradjaannja terutama disekitar Malang maka kita akan kagum mengingat keindahan tjandi pemandangan2 disekitar kota Malang. Mengingat akan kedjajaan negara tersebut pada waktu itu maka dibawah ini kami kutip sedikit karangan dan Prapancha. jang mentjeritakan perdjalanan Hajam Wuruk sesudah konperensi Djawa-Timur ia berturne antara lain meliwati Pasuruan. lalu keselatan terus ke Singosari, terus meliwati Kajutangan sekarang menudju kekota Kaganangan, dari sini esoknja ke Kidal (sekarang masih ada Tjandi Kidal) esok harinnja ke Singhasani lalu ke Buring. Desa Buring waktu itu sangat luas, meliputi Wendit dimana Hajam Wuruk rupanja bertamasja.

“Selandjutnja Sri Baginda pada suatu saat jang baik bertolak dari Singhasani menudju ke Selatan ke Kagenengan. Baginda beserta pengikut jang banjak Untuk memberi hormat kepada Bhatara (penguasa jang di dewakan) dan Tjandi kuburan.

Kami akan melukiskan keadaan Tjandi kuburan (sudhanma) itu, jang bangunnja tiada bandingannja pura masuk jang indah, jang tingginja ta’ dapat diukur, tembok jang bagus dibagian luar dan didalam ruangan jang rata (natar) berdirilah bangunan jang tjantik itu jang diberdirikan bertingkat-tingkat: dipinggirnja tumbuh banjak kembang Mimisops Elengi jang indah, — kembang2 bagaikan didalam mimpi”.

Selandjutnja ía menulis:

“Pada pagi harinja Baginda menudju ke Sudhanma di Kidal. Sesudah Baginda bersudjud dihadapan Bathara, perdjalanan dilandjutkan menudju ke Jajaghu. Sesudah ber sudjud pula didepan patung Jina jang sutji, pada sorenja beristirahat. Esok paginja perdjalanan diteruskan ke Singhasani dengan tiada merasa letih perdjalan diteruskan ke Buring dirnana Baginda beristirahat.

Keindahan Buring ialah kolam biru nan djernih bagaikan airnja keluar dari tanah; suatu Tjandi dari batu alam didirikan ditengah-tengahnja; banjak gedung berdiri di pinggirnja dan bermatjam-matjam kembang. Tempat ini senantiasa mendjadi tudjuan para pelantjong dan selalu memberi kebahagiaan kepada mereka jang datang kesana”.

Demikianlah keindahan dan kemakmuran sekitar Malang dizaman Hajam Wuruk (1350-1389)

Keradjaannya diluaskan lagi ke Sumbawa. Dengan rubuhnja Madjapahit setelah Hajam Wuruk mangkat pada tahun 1389, maka keradjaan2 Islam jang ketjil2 dekat pantai mulai meluaskan daerahnja.

Peninggalan zaman Madjapahit antara lain Tjandi Djago dekat Tumpang lewat desa Pasir. Pada tahun 1269 radja Wisnuwardhana telah dimakamkan disitu sebagai Bodisatwa. Dinding dan teras Tjandi tersebut berukirkan lukisan jang menggambarkan tjerita zaman purbakala.

Sebelah Barat Singhasari terdapat Tjandi pemakaman Kartanegara (1268—1292). Halaman Tjandi jang separo terbenam, kanan kirinja didjaga oleh artja2 raksasa. Tjandi ini bangunan tinggi dan oleh karenanja dinamakan djuga Tjandi Menara.

Djuga kemudian, pada abad ke-15 Malang adalah daerab jang kaja raja.

Setelah Madjapahit djatuh maka patih keradjaan tersebut melarikan diri kedaerah ini dan mendirikan keradjaan merdeka, jang oleh puteranja didjadikan keradjaan jang djaja. Petilasan2 benteng jang banjak terdapat terserak di hutan2 dan persil2 membuktikan akan kedjajaan keradjaan pada zaman itu.

Tembok besar jg. menge]ilingi keradjaan tersebut dimulai dari Pantai Selatan membudjur ke Utara lewat puntjak gunung Kawi kedesa Porong selandjutnja membelok ke Timur melalui gunung Tengger, Laut Pasir, puntjak gunung Semeru kembali ke Pantai Selatan. Tembok raksasa sedemikian itu hanja dapat dibangun okh keradjaan jang sangat banjak penduduknja.

Pusat keradjaan itu tenletak ditempat dimana kota Malang sekarang ini berada. Dibelokan kali Brantas didirikan sebuah benteng dan dinamakan Kota Bedah. Kini didesa Kota Bedah masih terdapat bekas2 benteng Hindu tersebut. Djuga terdapat bekas-bekas tempat pertapaan dari begawan2 zaman dahulu itu. Letaknja ialah dipingir kali Brantas dibawah bukit. dimana sekarang berada kuburan2 Tionghoa.

Your Ad Here

Leave a Reply