Sedjarah Kota Malang: ZAMAN GUBERNEMEN
Pada achir zaman kekuasaan Inggris di Pulau Djawa didalam tahun 1816 bangsa lnggris mengembalikan Pulau Djawa kepada Belanda. Sedjak itu Residen lnggris jang berkedudukan di Pasuruan telah diganti pula oleh Residen Belanda.
Buat berapa tahun lamanja di Malang tidak ada Pemerintahan Eropa karena di Malang waktu itu hanja ada kira2 30 orang Eropa sebagian besar adalah turunan dari pegawai2 kompeni. Rumah2 jang sedikit baik kelihatannja hanja baru ada di Tjelaket, Kajutangan, Klodjen-Kidul dan Temenggungan. Kira2 pada tahun 1882 baru orang membikin rumah disebelah Barat dan membuat alun2 jang hingga sekarang mendjadi pusatnja kota.
Dimana sekarang terdapat Oro2 Dowo dan Tjelaket dahulunja masih hutan dan terkadang orang bisa terkedjut melihat matjan kumbang.
Pemerintahan Malang waktu itu ada di tangan Regent Raden Temenggung Kartanegara jang mendapat perintah2 dari residen Pasuruan. Residen tersebut datang hanja dua atau tiga kali setahunnja. Sebagaimana telah dikemukakan tadi, perdjalanan dari Pasuruan waktu itu memakan tempo sepuluh sampai dua belas djam.
Dokter Gubernemen ataupun dokter Hewan Gubernemen tidak ada diwaktu itu. Pegawai2 tersebut mempunjai kedudukan di Pasuruan. Djuga kantor Kadaster berada di Pasuruan.
Berhubung penanaman kopi didaerah Malang berhasil bagus sekali, maka Malang dengan tjepat mulai madju kembali. Residen Domis jang djadi residen di Pasuruan dari tahun 1827 sampai 1830 menulis dalam buku tjatatannja bahwa kota Malang dalam tahun 1830 telah mengeluarkan hatsil 57 ribu pikul kopi dan diwaktu itu penduduk Malang dan sekitarnja berpenduduk hanja 40.000 orang. Dalam tahun 1824 barulah Malang mempunjai Asisten Residen dan ini berdjalan terus sampai belum mendjadi residensi. Baru dalam tahun 1928 telah diangkat sebagai Residen Malang pertama Tuan H. Kool dan Asisten Residen waktu itu ada Tuan J.C. Hoffmann.
Dalam tahun 1914 penduduk Malang menurut taksiran adalah sebagai berikut:
- 40.000 orang Indonesia.
- 2.500 orang Eropa.
- 4.000 orang Timur Asing.
- Tempat kediaman orang Indonesia: dikampung-kampung sebelah selatan dari alun2, Kebalen, Temenggungan, Djodipan, Talun, Kiodjen-Lor.
- Tempat kediaman orang Eropa: djalan2 disekitar dan disebelah barat daja dari alun2, Kajutangan, Oro2 Dowo, Tjelaket, Klodjen Lor dan Rampal.
- Kampung Tionghoa sebelah Timur laut Alun2.
- Tangsi2 Militair.
Kota Malang sudah sedjak tahun 1379 dihubungkan dengan kereta-api. Dalam tahun 1914 baru ada empat perhubungan tjepat setiap harinja ke dan dari Surabaja (dua pergi dan dua pulang), sedangkan djarak Malang-Surabaja diwaktu itu dilalui dalam dua djam empat puluh menit buat kereta-api tjepat dan empat djam buat kereta-api lambat. Djuga kereta-api dari Malang Stoomtram Maatschappij melalui kota diwaktu itu.
Djuga perhubungan pos baru dalain ta hun 1914 ada. Kantor Telepon waktu itu masih diusahakan oleh suatu Maatschappij partikelir dengan kurang lebih dua ratus tudjuh puluh lima hubungan2.
Dunia bank belum lagi menemukan Malang diwaktu itu.
Di tahun 1914 ada suatu bank afdeeling didirikan dengan rentjana jang sederhana.
Diwaktu itu hanja terdapat dua buah hotel jang sekarang ini sudah lenjap. Restoran-restoran waktu itu belum dikenal orang selain di kampung Tionghoa. Geredja Katholik dam Geredja Protestan masing2 punjai satu Geredja. Mesdjid waktu itu telah berdiri djuga. Lodji Theosofie jang didirikan dalam tahun 1911 di Malang sekarang belum lagi mempunjai gedung sendiri karena gedungnja rusak. Penduduk Tionghoa mempunjai Klenteng Toa Pek Kong.
Rumah Sakit diwaktu itu jang ada ialah selain dari rumah Sakit Militair dan rumah Sakit Gubernemen, masih ada dua rumah sakit partikelir jaitu kliniek “Malangse Ziekenverpleging” (kemudian djadi klinik Lavalet) terletak di Kasin dengan 25 tempat tidur, dan satu kliniek dokter terletak di Rampal.
Sekolah jang ada waktu itu:
- Suatu sekolah Mulo.
- Tiga sekolah Rendah Eropa.
- Suatu sekolah H.C.S.
- Tiga sekolah Rendah jang terletak di djalan Speelman, Klodjen-Lor dan Temenggungan.
Pers Kota waktu itu diwakili oleh madjalah Tjahaja Timur dan bagi golongan Belanda s.k. Oosthoekbode.
Dilapangan olah-raga terdapat perkumpulan patjuan kuda; selain dari itu, “perkumpulan bola Malang” dan suatu perkumpulan tennis.
Bentuk kota sudah banjak berubah. Djalan-djalan dikeraskan dengan batu tetapi tiada mempunjai trottoir.
Pohon2 jang indah terdapat dipinggir djalan itu dan merupakan pemandangan jang indah.
Disepandjang djalan2 terdapat rumah2 jang mempunjai tempat luas terbuka dan halaman2 jang besar.
Bentuk jang indah dan tjara diam dan membangun itu sangat diganggu dengan di bukanja lingkungan bagi penduduk2 Tionghoa jang diperbolehkan berdagang didalam daerah2 tempat rumah tangga dan selandjutnja boleh meniru setjara membabi buta bentuk2 dan pendjelmaan2 Barat.
Sedjak tahun 1914 faktor ini telah menumbuhkan pengaruh jang djelek terhadap bentuknja kota; sekarang ini gambaran sebagai dilukiskan tadi dapat dikatakan telah hilang sama sekali. Diwaktu itu peraturan kota untuk mengatur pembangunan masih belum dikenal, sehingga orang degan bebas dapat mengganggu dan merusak keindahan aslinja.
Karena diwaktu itu disini belum mengenal djalan aspal dapatlah dibajangkan betapa gangguan jang diperdapat penduduk dari debu dan betjek. Got2 dipinggir djalan digunakan orang djuga sebagai saluran untuk membuang air dari kakus dan air tjutjian. Kotoran rumah dan halaman ditanam atau dibakar dihalaman itu.
Tjobalah perhatikan peneranqan djalan2 diwaktu itu (gambar2 dulu dan sekarang) jang terutama dilakukan dengai lampu minjak tanah digantungkan atau didirikan dibeberapa tempat ditengah kota. Orang belum mengenal air leiding seperti sekarang- dan air minum waktu itu diambil dari sumur2.
Pasar jang baik tidak ada diwaktu itu karena satu2nja pasar (dikampung Tionghoa) diusahakan oleh orang Tionghoa dan Arab jang sebagai pedagang2 partikelir tidak memperhatikan benar soal2 kesehatan dipasar-pasar tersebut. Tidaklah mengherankan bahwa keadaan kesehatan diwaktu itu sangat mengetjewakan dan kota Malang terkenal waktu itu karena penjakit typhus jang sering berdjangkit.


on Nopember 15th, 2007 at 6:03 am
To “Pustakawan”,
In the article “Sedjarah Kota Malang: Zaman Gubernemen” you told something about the hospitals and clinics in Malang in that period. You wrote that in that time there were two privat clinics: the “Malangsche Ziekenverpleging” in the district Kasin (which – you say - later became the Rumah Sakit Lavalette) AND the clinic in Rampal. I don’t understand this, because I think the Rumah Sakit Lavalette in fact WAS that clinic in Rampal (and I heard is still exists). I have read it was build there in 1913 (or in 1918, according to another article). The reason I’m interested in this is, that I am trying to locate the “Ziekenverpleging Kassin te Malang” where my father J.N. Seulijn was born on 29-09-1908. Until now I am not able to find the exact place.
I know that there was a “small hospital” in Kasin in the “Sawahan Straat” (now Jl. Julius Usman). In 1929 the Catholic Mission took it over, rebuilded it and it became the “Rooms Katholiek Ziekenhuis”. Now it is the RS Panti Waluya Sawahan, see their site (Sejarah). Was this small hospital identical to the “Ziekenverpleging Kassin” or the “Malangsche Ziekenverpleging” or was the “Ziekenverpleging” located somewhere else in Kasin? And are you sure the “Malangsche Ziekenverpleging” later became the RS Lavalette in quite another part of town?
I also hereby send a link to a picture, dating from about 1930, that is in possession of the “Tropen Museum” in Amsterdam. One says it is “a small hospital in Malang for the domestic people”. Can that be the one in the Sawahan Straat, before the Mission took it over?
A lot of questions, I’m curieus if you know the answers…. Of course I would be very grateful if someone could help me. For me the most important thing is to find the birth-place of my father, who died in 1989.
Thanks very much, kind regards
J.N. Seulijn jr., Utrecht, Holland.
http://collectie.tropenmuseum.nl/fullscreen.asp?server=collectie.tropenmuseum.nl&port=20980&credit=Tropenmuseum Royal Tropical Institute&file=*images*screen*60005922.jpg