Beberapa dinas-dinas penting selama 40 tahun
Kebutuhan jang utama bagi penduduk sesuatu kota ialah saluran air jang baik dan banjak air jang mentjukupi. Sebelum tahun 1915 penduduk kota Malang mempergunakan air sumur. Baru pada tanggal I Agustus 1915 Haminte kota mengusahakan saluran air. Sumber2 jang digunakan buat saluran air tersebut ialah dari Karangan dan Sumbersari. Diwaktu itu pemakaian saluran air belum lagi merata pada seluruh penduduk.
Pada tahun pertama Haminte rugi f. 24.000,~ jang berarti suatu pukulan hebat, karena maklumlah usianja pun baru satu tahun. Kemudian dimintakan subsidi dari pemerintah tetapi mendapat djawaban, bahwa kerugian sematjam itu adalah biasa sadja. Tetapi pada tahun 1929 dinas saluran air telah memperoleh keuntungan kira-kira f. 177.000.~.
Pemakaian air semakin bertambah hingga hampir kekurangan air minum bagi penduduk kota. Hal ini disebabkan oleh karena sumber2 Karangan dan Sumbersari airnya surut, dan disebabkan itu harus ditjari sumber lain. Tahadinja orang memfikirkan akan mengambil air dan sumber Tjindi Kemadu sadja, tetapi ternjata hal ini tidaklah dapat memberikan kepastian 100% bagi penduduk kota Malang.
Dalam tahun 1935 penduduk kota mendapat tambahan air minum dan saluran air jang berasal dan Sumber Binangun, dekat Ketjamatan dan Kawedanan Batu. Pengambilan air dan sumber ini dilakukan menurut tjiptaan baru jaitu dengan djalan membikin terowongan didalam tanah sepandjang kurang lebih 100 M. Pemboran pada batu2 dibawah tanah dilakukan dengan kekuatan electrisch. Kebetulan tidak djauh dan Binangun itu terdapat djuga suatu bekas terowongan air dibawah tanah tjiptaan dari zaman dahulu kala, akan tetapi untuk saluran air jang dialirkan ketamanan padi di-sawah2, jg. pada dewasa ini sudah tidak terpakai lagi.
Tarip air pada waktu itu sangat tinggi dan beberapa anggauta Indonesia dan Tionghoa mengusulkan supaja diadakan tarip jang rendah buat bangsa Indonesia dan
Tionghoa, tetapi permintaan ini baharu terwudjud dalam tahun 1937. Dalam tahun 1938 penghasilan saluran air ada f. 276.244, 71. Djuga diadakan alat2 pembatasan pemakaian air. Melihat kepada banjaknja air jang rnengalir waktu itu dengan djumlahnja penduduk, maka dapatlah dikatakan bahwa air lebih dari pada tjukup. Tjobalah kita menindjau keadaan dewasa ini:
Djumlah penduduk Malang jang tertjatat lebih dan 270.000 orang itu kurang lebih ada 17.000 berdiam didalam wilajah saluran air minum. Lazim digunakan perhitungan untuk perusahaan saluran air ialah 1 liter/sec./ 1000 djiwa termasuk wilajah saluran air, baik mereka tersambung pada saluran air atau tidak. Dengan demikian maka dewasa ini sebenarnja diperlukan 170 L/sec. tidak terhitung untuk keperluan perusahaan2 dan tempat berenang. Sedangkan kekuatan (banjak) air jang masuk kekota adalah 65 L (Binangun) tambah 20 L (Sumbersari) tambah 19 L (Karangan) 104 L/sec.
Bila kita melihat kemuka sampai 15 tahun lagi dengan perhitungan tambahan angka kelahiran 2% (sesudah terhitung pengurangan penduduk jang mati maka pada tahun 1965 penduduk Malang akan mendjadi kurang lebih 351.000 orang dengan kebutuhan air 351 L/sec., belum terhitung Tentara dengan keluarganja jang berdiam didalam ksatryan. Karenanja dewasa ini pemerintah kota Malang sedang sibuk mempeladjari kemungkinan-kemungkinan untuk memperluas saluran air. Pandangan terutama ditudjukan kepada pengambilan air dari sumber Binangun jang menurut perhitungan Dr. Ir. Nash sumber tersebut mempunjai kekuatan minimum 500 L/sec. Disamping itu ada pula usul jang diterima dari Djakarta untuk mengusahakan penjaringan air jang akan diambil dari air kali.
Penerimaan karena pemakaian air dalam tahun 1952 ada Rp: 1.218.576,54 sedangkan djumlah sambungan dalam tahun tersebut ada 7.536 buah dan didalam tahun 1953:7747 buah. Pemakaian air dalam tahun2 1950, 1951, 1952 adalah sebagai berikut :
2.878.593 M3, 2.874.174 M3, 2.927.567 M3.
Dalam tahun 1952 dibeli 1100 meteran air. Tentang tarip kota Malang dapat dikatakan bahwa ia adalah rendah sekali apabila dibandingkan dengan kota2 lain.
Tarip air ini ialah tiap M3 Rp. 0.40 hingga 9 M3 dan selebihnja Rp. 0.60 atau Rp. 0,75 tiap M3 menurut djumlah anggauta keluarga. Untuk rumah2 sakit dan asrama2 serta seko1ah diberi tarip rendah, sedangkan bagi Mesdjid dibebaskan hingga 20 M3. Guna penduduk kampung disediakan air dari kraan2 umum dengan harga Rp. 0,30 tiap M3. Karena kurangnja air maka pada saat ini sedang diusahakan keras untuk mendapatkan subsidi atau pindjaman dan Pemerintah Pusat, agar kebutuhan air dapat ditjukupi.

Leave a Reply