Malang sebagai kota ksatrian (Bagian-3)
Agustus tahun 1945…. Kemerdekaan telah diproklamirkan. Pun dikota Malang tampak pergolakan masjarakat dengan pemudanja.
Berkat ketabahan dan kebidjaksanaan para pemimpin militer dan sipilnja, dapatlah dibatasi pertumpahan darah melawan kekuasaan Djepang sampai pada beberapa insiden2 ketjil sadja.
Penjerahan materiaal dan sendjata berdjalan dengan lantjarnja, jang kemudian disusul dengan pengangkutan Tentara Djepang oleh ?Popda? ke Probolinggo untuk diserahkan kepada pihak Sekutu.
Keramaian didalam kota berubah sifatnja dan beraneka warna pasukan dan barisan dengan pakaiannja jang ber-matjam2 pula menundjukkan belum adanja suatu Tentara jang tertentu.
Ber-turut2 diadakan peleburan lasjkar2 dan satuan2 dan achirnja meningkat pada organisasi jang merupakari satu badan bersendjata pada tahun 1947 dimana Biro Perdjoangan dihapuslan.
Dalam pada kita membangun, terdjadilah politionele actie Belanda jang pertama, jang diikuti dengan djatuhnja kota Malang. Bumi hangus dengan ledakan2 jang dahsjat didalam kota mendahului gerakan mundur dari pasukan2 Indonesia, meninggalkan runtuhan gedung-gedung militer dan gedung-gedung penting lainnja dan disana-sini terlentang djenazah2 pahlawan-pahlawan kita jang telah
gugur didalam mempertahankan kotanja.
Keadaan telah berubah lagi dengan adanja pasukan2 Belanda dibawah pimpinan Kolonel v.d. Meulen jang kemudian diganti oleh Lt Kol. Kraan dan bermarkas di Staf Divisi-Brawidjaja sekarang ini.
Dengan kekuatan ? satu Resimen terdiri dari beberapa Bn. Infanteri K.L. dan K.N.I.L Detachement dibantu dengan pasukan berlapis badjanja jang disebut ?Huzaren van Boreel? serta djawatan2 /dinas2 militer lainnja, mereka berkuasa kembali menempati complex ?Rampal? jang telah empat kali mengalami perubahan penduduk didalam kazerne2nja
Masa ini hampir tidak berbeda dengan keadaan pendudukan Tentara Djepang, dimana orang2 Indonesia jang terkemuka tidak terhindar pula dari pengawasan I. V. G. dan tidak sedikit pula jang telah mendjadi korbannja.
Sekolah2 telah banjak dibuka kembali, tetapi tidak banjak pemuda-pemuda Indonesia jang memasukinja.
Menjusullah aksi polisionil Belanda ke-II, hingga mereka djauh masuk kedaerah pedalaman jang dimulai dcngan djatuhnja ibukota Djokja.
Namun demikian, keadaan selalu berubah berkat keuletan pedjuang2 kita baik dikalangan bersendjata maupun dikalangan politici hingga mentjapai masa penjerahan kedaulatan.
Lebih kurang setengah tahun setelah itu, suasana dalam kota masih tegang antara Angkatan Darat Republik Indonesia dengan Tentara Belanda, karena masih terdapat sisa2 jang mengingatkan kita kepada masa jang lampau.
Achirnja dalam pertengahan tahun 1950 dipandang perlu oleh pimpinan Divisi I untuk memindahkan Markasnja dari Surabaja ke Malang dengan diikuti oleh semua Djawatan2 dan Dinas2nja.
Kembali pula penempatan complex Rampal oleh satuan2 Indonesia dan sedikit demi sedikit kota Malang merupakan suatu garnizoen jang besar. Kekuatan adalah djauh lebih besar dari pada keadaan2 sebelumnja, sehingga akibatnja daerah complex militer tidaklah mungkin terbatas pada complex Rampal sadja, melainkan tersebar diseluruh kota, sampai pelosok2 desa ditempati pula oleh anggota2 Tentara.
Pemerintahan Mi1iter segera dihapuskan dan mulailah apparaat sipil mendjalankan roda pemerintahan sepenuhnja.
Djuga Angkatan Daratnja memulai dengan pembangunan disegala lapangan. D(jawatan) P(emeliharaan) dan P(emakaman) T(entara) memperbaiki dan memberikan wudjud kepada Taman Makam Pahlawan jang terletak didjalan Betek. Bila dahulu kita belum memiliki suatu tempat jang tertentu bagi pahlawan2 kita jang telah gugur dalam dharma baktinja terhadap Nusa dan Bangsa, maka semendjak adanja Taman Makam Pahlawan ini hampir pada tiap-tiap hari Besar dan hari Nasional, tempat tersebut dibandjiri oleh seluruh masjarakat Malang, jang merasa dan mengakui bahwa kemerdekaan jang mereka dapatkan itu adalah sebagian besar atas pengorbanan para pahlawan2nja.
Lembaga2 Pendidikan Angkatan Darat jang djuga mempunjai tjabang2 nja di Garnizoen Malang, dengan pesatnja mengadakan pendidikan2, baik jang bersifat militer-tehnis, maupun jang bersifat pengetahuan umum. Dilapangan pendidikan djasmani pun tampak dengan njata adanja usaha untuk selalu memelihara hubungan jang erat antara Tentara dengan Rakjatnja.
Kemudian oleh Komando Divisi telah dibentuk suatu instansi jang disebut Komando Militer Kota dengan tugas selaku perantara antara Tentara dan Pemerintahan sipil dalam soal2 jang banjak sangkut-pautnja dengan tugasnja masing-masing. Dimasa-masa jang lampau terlihat anggota2 Militer Belanda dan Djepang kian kemari disertai pegawai2 sipil, maka ?kerdja-sama? ini tidak lain adalah karena perasaan takut, karena adanya paksaan sendjata.
.jpg)

Leave a Reply