Malang sebagai kota ksatrian (Bagian-2)

Apr 21st, 2008 by Pustakawan | 0

Pemandangan telah berubah! Disana-sini berkeliaran serdadu2 berpakaian kuning dengan petjinja jang bereinbel-embel dibagian belakang. Hampir pada tiap persimpangan djalan terlihat ?heitai? Djepang dengan bajonetnja terhunus, melihat-lihat apakah kita tidak lupa menundukkan kepala atau turun dari sepeda bila melalui dimuka pos2 mereka. Bendera ?tiga warna? telah berganti mendjadi bendera ?Nippon?, putih dgn. bola merah ditengahnja menghiasi gedung2 didalam kota.

Kendaraan2 militer dengan bendera kuning merah atau biru hilir mudik meramaikan djalan2 raja.

Complex militer Rampal berganti penduduknja, bahkan gedung2 sekolah dan rumah tangga ? rumah tangga biasa tidak sedikit jang berubah sifat dan isinja, baik jang merupakan markas2 dan asrama Tentara Djepang, maupun rumah-rumah opsir2nja. Sebentar sadja kelihatannja seolah-olah kita telah terlepas dari belenggu imperialis, karena aktiviteit dan hebatnja ?Sendenbu? atau Djawatan Penerangannja.

Tidak lama pula setelah mereka berkuasa, maka didirikanlah badan2 pembelaan: Keibodan, Seinendan dan Heihonja. Murid2 sekolahpun tidak luput dari keharusan latihan ?kyoren?, sehingga setiap hari hampir kelihatan dimana-mana, disemua lapangan jang ada, ja, di-djalan2 kesibukan latihan-latihan ketentaraan jang dipimpin oleh ?saudara2 tua? sendiri, jang tidak djarang pula mengakibatkan gangguan lalu-lintas. Tidak lama pula menjusullah Tentara Sukarela Pembela Tanah-Air disingkat ?Peta? dengan tudjuan, menurut konsepsi kaum fasis Djepang ialah mendirikan tentara nasional jang kelak akan mengatur pertahanan dalam alam Indonesia Merdeka jang mereka sadjikan. Djuga dikota Malang tampak pembentukan pasukan itu, jang dilatih setiap hari oleh para Shodantjo, Tjudantjo dan Daidantjo dibawah pengawasan mereka.

Perlu disebutkan pula terbentuknja ?Yugekitai? jang terdirii dan pemuda2 jang baru meninggalkan sekolah Menengah atau duduk dikelas tertinggi dari Sekolah2 Menengah, jang telah mendapat didikan chusus untuk mendidik pemuda2 lainnja sebagai kelengkapan badan-badan pembelaan tadi. Dan bersamaan dengan itu pula tidak ketinggalan pembentukan ?djibakutai? atau ?barisan berani mati?.

Kenpeitai-nja jang bertempat digedung Sekolah Menengah Kristen didjalan Semeru, dibawah pimpinan Harada Sjosja (Major), mengawasi segala gerak-gerik anggota2 Tentara Indonesia chususnja dan masjarakat Indonesia umumnja.

Dan tidak mungkin dilupakan bekas2 jang ditinggalkannja jang merupakan kuburan (massa-graven) dari orang2 Indonesia jang telah berani kepada ?Saudara tuanja? dan … masih banyak lagi kekedjaman2 jang tidak akan tjukup dituliskan dalam sebuah atau dua buah buku sadja.

Katagiri Taisja (Kolonel) menjediakan pasukannja sebesar ? 1 Resimen tersebar diseluruh Karesidenan Malang dan berpusat disalah satu Kazerne di Rampal, tjukup kuat untuk menekan setiap usaha jang akan merintangi pekerdjaan mereka.

Hatsil pembangunan kota oleh Pemerintah Belanda beberapa waktu sebelum petjah perang dipergunakan benar untuk menempatkan kekuatan bersendjatanja diseluruh kota, Dan pelosok2 kota serta kampung2 Tjukup diserahkan kepada alat-alat (badan2) pembelaan jang telah dibentuknja.

Kemudian perlu disebutkan bahwa untuk menghibur pradjurit2 mereka, disana-sini didirikan rumah2 makan/minum (bars) serta tempat jang tertutup oleh pagar-pagar bambu, jang kesemuanja adalah sangat bertentangan dengan adat dan kesopanan bangsa Indonesia chususnja.

Akan tetapi bukan sadja kesibukan ini hanja dialami oleh badan2 pembelaan tadi serta ?Tentara? nasionalnja, melainkan djuga dimasjarakat tampak benar; mulai dari murid sekolah sampai gurunja, djurutulis sampai bupatinja, pemudi2 sampai ibu, tidak terhindar dari pada ?kinrohosji? jang dikerdjakan dipelbagai tempat didalam maupun diluar kota. Namun demikian, masih tampak kekotoran didalam kota in, jang semendjak dulu terkenal dengan ?kota terbersih? diseluruh Djawa.

Achirnja perlu ditjatat pula betapa seringnja kota Malang pada waktu malam diliputi oleh kabut hitam gelapm bilamana terdengar dengungan sirene2 diseluruh kota, walaupun atjapkali pula bukan karena ada bahaja serangan udara dari pihak sekutu.

Demikian dengan singkat gambaran selama pendudukan Djepang. Keadaan didalam Kota Malang, jang berturut-turut mengalami tekanan akibat kekuasaan asing, jang achirnja memuntjak dengan meletusnja revolusi nasional, dimana seluruh rakjat Indonesia dengan segala matjam daja-upaja mengangkat sendjata terhadap kaum penindas.

Leave a Reply