Malang sebagai kota ksatrian (Bagian-1)

Apr 21st, 2008 by Pustakawan | 0

Kiranja tidak salah bilamana orang mengatakan, bahwa kota Malang ada mempunjai sifat-sifat jang sesuai dengan keadaan masjarakat jang kini sedang membangun dalam segala lapangan. Letak serta iklimnja dan pemandangan-pemandangan disekelilingnja sungguh mendorong setiap orang jang telah merasakan dan melihatnja untuk menetap dikota dingin ini. Keadaan dilapangan sosial, ekonomi, kebudayaan dan lain2 tjukup dapat disesuaikan dengan perkembangan2 masjarakatnja.

Dan faktor diatas tadi tidak luput pula dari tafsiran para ahli militer, bahwa kota Malang merupakan salah satu tempat di Djawa-Timur jang tepat untuk dipilih sebagai tempat pemusatan satuan2 Tentara, baik dizaman pendjadjahan jang lampau maupun dimasa sekarang ini. Sudah barang tentu bukan hanja faktor2 tersebut diatas sadja menjebabkan dipilihnja kota Malang sebagai kota Ksatrian, melainkan faktor2 militer-strategis djuga mempengaruhinja, misalnja tjukup mempunjai djalan2 keluar (uitgangswepen) bilamana menghadapi sesuatu serangan, mempunjai kota2 ketjil (voorsteden) disekitarnja jang strategis letaknja untuk menghambat gerakan fihak penjerang, disekitarnja mempunjai daerah jang tjukup makmur untuk memenuhi kebutuhan rakjatnja dan lain2.

Sesuai pula dengan perubahan serta kemadjuan kota dipelbagai lapangan, maka sebagai Kota Ksatrian pun tampak benar perubahan2 itu sedjak zaman pendjadjahan Belanda, Pemerintah Militer Djepang sampai zaman Republik Indonesia sekarang ini.

Beberapa tahun sebelum petjah perang dunia, dimasa Kota Malang masih berpusat ditempat jang sekarang disebut Kota Lama, sebelum ada bagian2 jang kemudian disebut ?vruchtenbuurt, bergenbuurt? dan lain2nja, maka bagian kota disebelah Timur, jang dikenal orang dengan nama ?Rampal?, telah disebut complex militer, karena kazerne-kazerne dan rumah2 militer telah didirikan disana, walaupun tidak sepenuh dan sepadat sekarang ini . Pada waktu itu dikota Malang kekuatan ?kompeni? pun tidak sebesar keadaan Tentara seperti masa achir2 ini, sehingga penempatannjapun dipusatkan dicomplex tersebut, sedangkan dibagian kota lainnja hanja terdapat beberapa pendjabat militer jang tinggi sadja. Kata ?kompeni? sudah lazim disebut orang untuk mengartikan Tentara Belanda pada masa itu jang kemudian dinamakan K.N.I.L kelandjutan daripada sistim militer bangsawan dan militer kolonial atas dasar pembentukan tentara upahan. Disini digunakannja politik ?memetjah-belah? dgn. menjusun kompi2 Belanda Totok, kompi2 Sunda, Djawa, Ambon dan lain sebagainja, sedang pimpinan dipegang oleh perwira2 Belanda ; baru lama kemudian timbul perwira-perwira Indonesia jang diambilnja dengan djalan seleksi dari keluarga2 bangsawan dan jang telah diketahui terlebih dahulu kesetiaannja kepada Belanda. Kiranja nama K.N.I.L. tjukup djelas bagi kita kearah mana kita akan dibawa pada waktu itu, bahkan strategi, taktik dan latihan2nja ditudjukan untuk membasmi perlawanan rakjat dan melakukan politik adu-domba dan petjah-belah.

Tidaklah salah bilamana dikatakan bahwa ?masuk kompeni? pada waktu itu hanja untuk mentjari nafkah dan kedudukan belaka. Tjara mereka hidup dan bergaul dengan masjarakat pun berlainan dengan keadaan pada masa sesudah itu.

Akan tetapi, dengan petjahnja Perang Dunia semendjak tahun 1939, berubahlah keadaan itu, K.N.I.L. diperbesar, latihan2 diperhebat dan achirnja disusuli dengan milisi jang terlambat diadakannja Landswacht, stadswacht dengan L.B.D. nja.

Disana-sini tampak kesibukan Belanda mempersiapkan Tentaranja, kesibukan ini njata pula dengan bertambah ramainja kota Malang, penuh dengan ?serdadu? berpakaian hidjau dengan topi bambu jang hidjau pula.

Kalau tadinja ?kompeni? tidak tampak hubungannja dengan masjarakat atau instansi2 sipil, karena menghadapi portienja sendiri dengan ?dagelijkse oefeningen-nja? dan karena memang dilarang untuk terlalu dekat pada masjarakat Indonesia chususnja, maka sekarang tampak mereka sibuk melatih para ?milisien? tadi.

Akan tetapi sajang……………….. persiapan2 tadi sia2 belaka, oleh karena beberapa hari setelah pendaratan Tentara Djepang di Banten dan dibeberapa tempat di Djawa tanggal 1 Maret 1942 dan tertangkapnja Lt. Djenderal H. Ter Poorten pada tanggal 9 Maret 1942, bertekuk-lulutlah pihak Belanda kepada kekuasaan Djepang. Pertempuran2 ini tidaklah mendjalar sampai kekota Malang, sehingga bangunan2 pun tetap utuh dan tidak pula dirasakan oleh penduduk Malang, akibat pertempuran2 jang dahsjat seperti kota-kota besar lainnja.

Achirnja tahun 1942……………. ?Dai Toa no tame ni? dan ?Indonesia dokuritsu? terdengar setiap hari disiarkan melalui radio2 umum.

Leave a Reply