Ibu kota Republik Indonesia harus dapat mempunjai dan menjinarkan rasa suasana dan perbawa Indonesia

Mei 30th, 2007 by Pustakawan | 0

Disampingnja memperingati kota Malang dari sedjak lahirnja hingga sekarang dan disampingnja menguraikan tcntang perkembangan dan pertumbuhan dari kota Malang selama 40 tahun, belum dapat dianggap sempurna, djika kita tidak membitjarakan tentang hal Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Sebab soal ini adalah didalam bahasa asingnja “inhaerent”. Soal Ibu Kota adalah soal jang tidak dapat dipisahkan dari soal perkembangan kota Malang.

Untuk memperlengkapi perkembangan2 dan pertumbuhan2 jang istimewa dari kota Malang, maka disini kami kemukakan, hendaknja Ibu Kota nanti mempunjai dasar jang chusus, dasar jang sungguh2 Indonesia. Tiap pengundjung Ibu Kota, baik pengundjung ini merupakan orang asing ataupun penduduk asli, harus intuitief mempunjai rasa “masuk Ibu Kota Negara Republik Indonesia”. Rasa intuitie ini harus sungguh2 “geeigend” bagi Ibu Kota nanti.

Maka oleh karenanja, djika kami diperkenankan memakai perkataannja Bung Karno, maka kita harus lebih dahulu meletakkan “weltanschauung”, meletakkan dasar, meletakkan philosofische grondslag, diatas mana Ibu Kota nanti akan didirikan. Dan weltanschauung ini ialah aspect dan aesthetica Indonesia, pendek Ibu Kota Republik Indonesia harus dapat mempunjai dan menjinarkan rasa, suasana dan perbawa Indonesia.

Sdr. R. SOERIPTO:
(Ketua Panitya “Malang sebagai Ibu Rota Republik Indonesia”).

Your Ad Here

Leave a Reply