Faktor SOCIOLOGIS Malang Sebagai ibu kota Negara
tuknja Pemerintah-Kota-Malang (P.K.M.) pada tg. 29 April 1914, maka mengalirnja penduduk baru maupun meluas-melebar serta mengindahkan kota Malang adalah pesat sekali. Bahkan hingga saat ini mengalirnja penduduk baru maupun hidup-tumbunja kota ini masih djauh dari pada selesai. Adapun hidup tumbuhnja kota Malang sepesat ini adalah pertama disebabkan oleh beberapa sjarat2 sociaal, sedang sebab jang kedua ialah ketangkasan serta kebidjaksanaan P.K.M. dalam tindakannja membina serta membimbing tumbuhnja kota ini serapi serta seindah mungkin. Tindjauan sebab2 sociaal tsb. akan memaksa kita meneliti kembali keadaan pada tahun 1914, ialah tahun pembentukan P.K.M. Sedjak tahun ini, Malang adalah sebuah Kota Ksatrian (garnizoensstad) jang njata besar benar pengaruhnja kepada tindakan2 P.K.M. dalam usahanja memperluas daerah kota. Pada tahun 1939 Malang mendjadi Pusat Tentara Belanda untuk seluruh Djawa-Timur, sedang dengan berpindahnja Territoriaal Commando ke Malang ini maka berpindahlah pula Angkatan-Udara ini ialah, bahwa lapangan terbang Singosari diperluas, diperlengkapi sehingga mendjadi sebuah pangkalan udara jang terbesar di Indonesia. Dan dengan demikian lebih besarlah pula pengaruh jang mendorongkan adanja perluasan kota. Akibat pengaruh ini ialah timbulnja Pusat Pemerintahan Daerah di Malang (tahun 1928) terbukanja pelbagai djawatan2 serta perusahaan2, misalnja : Algemene Volkscrediet-Bank, Javase-Bank, Escompto-Mij Handelsbank, N.V Faroka Cigarettenfabriek, Wezel-Co.. berdjenis-djenis pabrik padi dan minjak d.1.s. Selandjutnja letak kota Malang jang ?klimatologis? baik mendorongkan pula pembukaan pelbagai sekolahan-sekolahan, sehingga Malang sedjak dulu hingga kini masjhur sebagai Kota-Sekolah (scholenstad).
Berhubung dengan eratnja perhubungan antara sjarat2 satu dengan lainnja, maka terdapatlah sedjenis sifat ?hidup-menghidupkan? sehingga lambat-laun benih-hidup serta
jang telah dimiliki oleh kota Malang ini kian bertambah tumbuh dan mengembang dengan suburnja. Selandjutnja keadaan di luar daerah kota, misalnja perkebunan2, pabrik2 gula dsb, lagi pula letak kota Malang sendiri jang ?economisch centraal gelegen? ini berpengaruh dan memberikan daja hidup kepada kota ini jang tiada terkirakan kekuatan tenaga pendorongnja. Akibat dari pada ?economische drang? ini ialah terselenggaranja perhubungan tjepat serta biasa antara Malang dengan kota2 pelabuhan dan lain2nja (Surabaja d.s.b.) dan factor2 ini silih-berganti dorong-mendorong memperkuat tenaga hidup (levensvatbaarheid) kota Malang. Sesungguhnja, kenjataan demikian adalah dasar2 belaka untuk mentjerminkan ?Malang dihari kemudian?.
Dengan adanja lapangan-terbang maka kemungkinan untuk menjelenggarakan perhubungan-udara interinsulair, inter-asia, maupun internationaal, sangat luas adanja. Maka ditilik dari keadaan sekarang maupun didasarkan kepada kemungkinan dikemudian hari, kota Malang tjukup memiliki tenaga maupun djaminan untuk hidup serta tumbuh langsung.
Kini, untuk pembangunan kota Malang mendjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia, maka Malang sendiri maupun daerah2 sekitarnja dapat memberikan tenaga manusia jg. lebih dari pada tjukup (penduduk Karesidenan Malang 3,5 djuta djiwa). Kabupaten serta kota Malang mempunjai penduduk sebanjak 2 djuta djiwa, jang sebagian besar tidak mempunjai tanah garapan, sedang hingga sekarang tenaga manusia dari Madura terus mengalir. Selandjutnja diantara mereka banjak ahli2 pertukangan (batu, kaju d.s.b.).
Rakjat Malang sebagian besar beragama islam, tetapi pada umumnja terdapat sifat2 jang begitu rupa, sehingga hubungan dengan rakjat jang menganut faham agama lain tetap terpelihara.


Leave a Reply