Faktor ECONOMIS Malang Sebagai ibu kota Negara

Apr 21st, 2008 by Pustakawan | 1

Segala sesuatu jang ditakdirkan untuk hidup dibumi ini, maka ditakdirkan pula ia dibumi untuk makan. Benih jg. ditanam ditanah sesudah berakar mengisap zat tanah serta menghirup hawa udara untuk hidup dan makan; seekor kerang jang hidup didasar lautan membuka kulitnja untuk makan, seekor harimau atau serigala jang berkeliaran di rimba menerkam korban untuk makan. Manusiapun membanting tulang sedjak pagi hingga malam hari tiada lain untuk makan. Memang ini adalah suatu hukum alam jang tiada mungkin dilanggarnja atau si-pelanggar akan binasa karenanja. Siapa jg. hidup tapi tidak makan, pasti akan menderita dan achirnja akan mati.

Demikianlah, barangsiapa memfikirkan hendak membangun Ibu Kota Negara, maka harus pula difikirkannja bagaimana ichtiarnja untuk memberikan makanan dan hidup padanja. Seandainja Malang ditundjuk untuk mendjadi Ibu Kota Negara kita, maka berdasarkan uraian diatas, pertanjaan jang kini timbul ialah : ?Dapatkah Malang dan sekitarnja menghasilkan bahan makanan jang tjukup untuk mendjamin langsung hidupnja Ibu Kota itu ??, atau dengan kata2 lain: ?Adakah Malang dan sekitarnja dapat menghasilkan bahan-makanan jang tjukup banjak untuk memenuhi keperluan penduduknja sendiri serta penduduk Ibu Kota jang akan datang ?? Tetapi, sebelum pertanjaan ini kita djawab, maka baiklah terlebih dahulu kita kemukakan suatu pertanjaan lain: ?Benarkah soal productie bahan makanan ini penting untuk dibitjarakan dalam pada menentukan dasar, apakah Ibu Kota dapat didirikan disini? Bukankah bahan makanan itu dalam masa biasa dapat didatangkan dan manapun djuga ??.

Meskipun benar, soal productie bahan makanan itu bukannja soal jang sangat penting untuk menggantungkan kedudukan Ibu Kota Negara kepadanja, sebab bahan makanan dapat kita datangkan dari daerah jg. kelebihan (surplusgebied), dari seberang atau dan Luar-Negeri, tetapi dari sudut economie baiklah ibu kota itu didirikan di daerah surplus, djika sjarat2 lainnja telah dipenuhi pula oleh daerah itu, misalnja: urbanisatie, technis, hygiene, cummunic?tie: dll. Andaikata Ibu Kota itu didirikan didaerah jang kekurangan (minusgebied) sudah tentu kira harus mendatangkan bahan-makanan dari luar. Harga bahan makanan jang didatangkan itu diberati dengan pelbagai beaja, misalnja: pengangkutan, penjimpanan dll., sedang harga lawan tidak ada, karena hasil sendiri tidak mentjukupi keperluan sehingga harganja hasil-sendiri inipun mahal adanja. Apabila Ibu Kota didirikan didaerah surplus, harga bahan-makanan hasil daerah sendiri tidak mahal, karena persediaan tjukup banjak serta mentjukupi keperluan. Bahan makanan dari luar tidak akan mendapat pasar karena harganja lebih mahal berhubung pemberantasan dengan pelbagai beaja2 tersebut. Tetapi bila pada sesuatu saat harga bahan makanan hasil daerah sendiri mendjadi mahal, misalnja karena kerusakan tanaman dsb, sehingga persediaan tidak lagi mentjukupi keperluan, maka kita dapat mendatangkan bahan2 dari luar. Demikianlah maka dapat disimpulkan, bahwa didaerah minus harga bahan makanan ditentukan oleh harga bahan jang didatangkan dan luar, sedang didaerah surplus harga itu ditentukan oleh harga bahan2 hasil daerah sendiri jang sudah tentu lebih rendah adanja. Dan segala uraian ini djelaslah pula rasanja, bahwa suatu Ibu Kota didaerah minus menggantungkan nasib langsung hidupnja kepada luar daerah. Bila datangnja bahan terlambat, misalnja karena gangguan pada pengangkutan, maka akibatnja ialah barang kurang dan harga lebih meningkat. Lebih2 dalam keadaan perang, bila perhubungan dengan luar terputus atau karena lain2 sebab jang mungkin timbul di masa perang, maka kesulitan2 jang dihadapi Ibu Kota itu tidak sedikit.

Kini apakah Malang serta daerah sekitarnja dapat menghasilkan bahan makanan jang tjukup banjak untuk memenuhi keperluan Ibu Kota ? Marilah pertanjaan ini kita kupas seksama. Adapun daerah sekitar Malang jang kami maksudkan di sini, ialah Kerisedan2 Malang, Kediri dan Besuki.

Bahan makanan jang dihasilkan oleh Karesidenan Malang kini hanja dapat memenuhi keperluan penduduk kota Malang sekarang, serta penduduk sekaresidenan sadja, jang berdjumlah 354 djuta orang. Sebagian dari pada penduduk ini makan nasi-murni, sebagian lagi djagung-murni, sedang sebagian pula makan nasi tjampur djagung. Angka2 pasti tentang golongan2 ini tidak dapat dikemukakan, hanjalah dapat sudah dipastikan bahwa sebagian besar penduduk luar kota; termasuk golongan jang makan nasi tjampur djagung.

Adapun productie padi maupun beras Karesidenan Malang setahunnja ialah 4.4 djuta kwintal padi atau 2,2 djuta kwintal beras, sedang productie djagung ialah 2,3 djuta kwintal. Dalam keadan biasa productie ini tjukup untuk consumptie bagi penduduknja, bahkan ada surplus sebanjak lebih-kurang 300.000 kwintal djagung.

Karesidenan Besuki berpenduduk 234 djuta orang. productie padi lebih-kurang 6,9 djuta kwintal padi, sedang sebagian besar penduduknja makan nasi tjampur djagung

atau djagung sadja. Surplus beras jang terdapat di Besuki lebih-kurang 1,8 djuta kwintal. Andaikata kota ini hanja berpenduduk 1 djuta orang, maka surplus padi ini tjukuplah sudah untuk mendjamin makanannja.

Adapun hasil bahan makanan lainnja misalnja kedele, katjang tanah, katjang hidjau dsb. dari daerah Malang tjukup banjak sudah untuk memenuhi keperluan Ibu Kota, belum terhitung pemasukan dari Karesidenan Besuki. Sajur-majur Europa, wortel, kobis, sla dsb. tjukup banjak, asal bibitnja tjukup banjak pula adanja. Dizaman Belanda, hasil sajur-majur daerah Batu, Punten, Tengger dan Prigen, tidak hanja mentjukupi keperluan kota MaIang, melainkan dikirim pula ke Surabaja, bahkan kobis pernah di-export ke Singapore. Djenis sajur lainnja, misalnja terong, katjang-pandjang, bajem, brambang, lombok dsb, lebih dari pada tjukup, sedang bila perlu dapat pula diperluas. Hanja njiur Karesidenan Malang tidak dapat mentjukupi keperluannja sendiri, tetapi mendatangkannja dari Blitar dan Banjuwangi. Dalam soal menghasilkan buah2an misalnja djeruk, mangga, langsep, moerbeien, aardbeien, anggur dsb., Karesidenan Malang mempunjai kedudukan jang tiada lawannja, demikian pula halnja dalam soal persediaan api-pemotongan, bahkan pasar sapi untuk seluruh Djawa bertempat di daerah Malang. Surplus sapi dari daerah Madura serta Besuki diperdagangkan didaerah Mal?ng, sedang djumlah setahunnja tidak kurang dari pada 100.000 ekor.

Kaju bakar dan arang dari hutan2 daerah Malang lebih dari pada mentjukupi, belum terhitung ?accasia-cultuur? jang kini sudah dimulai setjara besar2an.

Ikan laut didapat dari Bangil, Pasuruan, Nguling, Lekok dan Probolinggo, sekaliannja kota2 pelabuhan-nelajan didaerah Karesidenan Malang.

Leave a Reply